|
Bulan Februari adalah bulan kelahiran Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung atau yang lebih dikenal dengan nama Bandung Heritage. Berikut adalah Sejarah Singkat berdirinya Bandung Heritage : 23 Tahun Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung Pengabdian Kepada Masyarakat
Ringkasan Sejarah Berdirinya Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung/Bandung society for Heritage Conservation (Bandung Heritage)
Pada permulaan tahun 1986 beberapa orang yang satu dengan lainnya sering bertemu, mengungkapkan keperhatinannya mengenai bangunan yang berarsitektur indah dan tata ruangnya yang nampak tidak terawat. Keprihatinan ini juga ternyata juga menarik perhatian lawan bicaranya, hingga berkembang menjadi suatu bahan pembicaraan yang serius. Pembicaraan ini akhirnya menjadi suatu pertemuan rutin sebagai selingan untuk saling tukar menukar pandangan.
Pada pertengahan tahun tersebut diatas, pertemuan yang terdiri dari para pakar dan professional baik bidang teknik maupun non teknik mulai memperoleh kesepakatan pendapat, yaitu bagaimana melestarikan berbagai warisan budaya dan alam lingkungannya. Kesepakatan ini memfokuskan kepada Kota Bandung dan sekitarnya dan sesudah di peroleh suatu kesatuan pendapat , mulailah gagasan ini disampaikan kepada Walikotamadya Bandung. Ternyata walikotamadya Bandung memberikan tanggapan yang amat positif, dan meminta agar memberikan suatu rumusan teknis yang dapat dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Pertemuan dengan Walikotamadya ini berlangsung pada pertengahan tahun 1987 di Hotel Panghegar.
Untuk menjawab permintaan Walikota Bandung, seluruh anggota yang jumlahnya baru 16 (enambelas) orang mulai bekerja. Pertama kali sesudah secara umum diperoleh rumusan kerja, maka dipandang perlu menyelenggarakan pameran untuk memperkenalkan diri dan kegiatan kerja kepada masyarakat Kota Bandung. Tujuannya yaitu untuk memperoleh masukan yang lebih banyak lagi. Pameran yang ditunjang oleh PT. Panghegar dan dibantu beberapa simpatisan di Kota Bandung dan Jakarta dilangsungkan, di balai Pertemuan Ilmiah ITB. Dan dibantu oleh para mahasiswa yang sebagian besar dari ITB dan UNPAR.
Untuk memperkenalkan jatidiri kelompok ini, maka atas gagasan Ir. Cecep Rukmana, kelompok ini diberi nama “Paguyuban Pelestarian Budaya”. Budaya dalam arti mempelajari dan memelihara warisan alam dan warisan karya manusia, dengan logo “Burung Garuda” karya Dibyo Hartono. Sementara itu atas usul permintaan Soewarno Darsoprajitno, Bapak H.E.K. Ruhiat diminta kesediaannya untuk menerima jabatan sebagai Ketua Paguyuban. Semuannya ini ditetapkan dan diterima dengan bulat pada tanggal 15 Februari 1987.
Sejak tanggal tersebut berbagai kegiatan dan hubungan dengan luar negeri dikembangkan, antara lain dengan Singapore, Selandia Baru , Amerika Serikat dan beberapa lagi lainnya untuk memperoleh bahan untuk Studi Banding. Didalam negeri hubungan baru berlangsung dengan Pemda DKI, BUDP, Goethe Instute dan satu dua lagi lainnya. Demikian pula dengan “Pikiran Rakyat” juga sudah dijalin kerja sama dan pada pertengahan Januari 1989 mengadakan seminar yang juga ditunjang oleh PT. Panghegar. Dalam Seminar tersebut salah satu pembicaranya yaitu Walikotamadya Bandung, disamping Prof. Otto Soemarwoto dari lembaga Ekologi Unpad. Kegiatan kerja lainnya yaitu penulisan berbagai artikel yang bertema Pelestarian di harian Pikiran Rakyat, “ceramah rutin” setiap bulan yang dikelola oleh Ir. Harastoeti DH, hubungan Internasional yang dilaksanakan oleh Ny. Frances B. Affandy dan penerbitan “Warta Pelestarian “ yang dikelola oleh Tjioe Poo Kwat.
Tetapi yang terpenting dari segalanya tersebut di atas, yaitu kepercayaan Pemda Kotamadya Bandung kepada “Paguyuban” untuk memberikan berbagai gagasan dan usulan teknis dalam mengembangkan dan melestarikan berbagai warisan yang ada di kota Bandung. Hal ini juga ditunjang oleh hasil pemikiran para pakar “Paguyuban” lainnya, seperti Prof. Bambang Hidayat, Ir. Agan Hariman, Ir. Haristanto dan beberapa lagi lainnya.
Latar Belakang
Paguyuban Pelestarian Budaya atau Bandung Heritage didirikan atas inisiatif para pakar berbagai disiplin ilmu dan profesional yang mencintai dan ingin melestarikan semua peninggalan budaya bangsa yang lahir dan berkembang di Jawa Barat, termasuk yang ada dikota Bandung. Mengingat bahwa lahir dan berkembangnya suatu budaya sangat erat kaitannya dengan lingkungan alamnya, maka lingkungan alamnya pun perlu juga dilestarikan. Peninggalan hasil budaya bangsa cukup banyak jenisnya, dan meskipun banyak diantaranya merupaka hasil karya bangsa lain, tetapi ternyata banyak juga unsur budaya bangsa Indonesia yang terselip atau diselipkan didalamnya.
Melestarikan budaya bangsa memang banyak manfaatnya, disamping untuk meningkatkan ketahanan nasional dan menjaga agar rangkaian mata rantai sejarah tidak terputus , maka data dan informasi budaya untuk pendidikan dan penelitian tidak hilang. Melestarikan tidak berarti menutup atau melarang tetapi justru sebaliknya, yaitu memelihara untuk memperpanjang umur suatu peninggalan sejarah alam dan atau budaya manusia. Agar kehadirannya dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kesejahteraan hidup manusia.
Peninggalan sejarah hasil budaya manusia banyak jenisnya, baik dalam bentuk bangunan teknik atau seni arsitektur, maupun dalam bentuk nir teknik seperti seni tari , kerajinan adat istiadat, upacara tradisional dan lain-lainnya. Dalam rangka pelestarian budaya bangsa ini , para anggota Paguyuban bekerja atas dasar pengabdian secara sukarela untuk memberi sumbangan gagasan, keahlian, keterampilan, pengalaman, kemudahan, tenaga, dana atau lainnya sesuai dengan kemampuan. Sampai sekarang berbagai kegiatan telah dilaksanakan dengan bekerjasama dengan lembaga Pemerintah atau swasta, baik didalam maupun di luar negeri .
|
Comments
RSS feed for comments to this post.