Delicious

Bandung Heritage

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
Joomla! Slideshow

ShareThis

Pelestarian warisan Budaya Arsitektur Kolonial (Shared Built Heritage) di Kota Bandung
Written by admin   
Tuesday, 15 April 2014 18:56

 

ICOMOS Indonesia, Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, and Program Studi Arsitektur ITB cordially invite you to join us in

Last Updated on Thursday, 17 April 2014 19:48
Read more...
 
Alamat Sekretariat Baru
Written by admin   
Friday, 14 March 2014 13:32

Kantor Sekretariat kami Pindah dari Jalan LLRE MArtadinata no.209 Bandung ke Jalan Rereng Barong no. 99T Sukaluyu Bandung

 

contact person koko qomara : 082116905777

Last Updated on Friday, 14 March 2014 13:36
 
Banyak Keindahan Lingkungan Hidup di Kota Bandung yang Terabaikan
Written by admin   
Friday, 10 January 2014 20:04

BANYAK KEINDAHAN LINGKUNGAN HIDUP DI KOTA BANDUNG YANG TERABAIKAN

Oleh : Dibyo Hartono

 

Prinsip pengembangan desain sebuah kota seharusnya bertujuan untuk menjadikannya sebuah karya seni yang pengembangannya dijalankan dalam landasan estetika intelektual. Selain dapat melukiskan perjalanan sejarah perkembangan sosial manusia, kota juga merupakan ekspresi arstistik kehidupan komunitas manusia yang disebut lingkungan budaya. Pengembangannya selain berorientasi untuk kepentingan kualitas hidup manusia masa depan yang lebih baik, juga harus tetap dapat mengekspresikan latar belakang sejarah manusianya di masa lalu, yang nilainya sangat berharga. Demikianlah pendapat seorang analis Urban Jon Lang (Jon Lang, Urban Design, 1994 : 106)

 

KUALITAS LINGKUNGAN KOTA BANDUNG YANG SEMAKIN MENURUN

Sebagai sebuah kota yang relatif telah berkembang cukup lama, lebih dari 200 tahun bandung memiliki sejarah perkembangan kota yang dimulai dengan pembangunan Kabupaten dan Alun-alun pada tahun 1810. Sebuah kota, hasil usaha merealisasikan keinginan Gubernur Jenderal Daendels untuk memindahkan kabupaten dari daerah Dayeuh Kolot ke sebuah kawasan pertemuan antara jalan Raya Pos dengan Sungai Cikapundung, sejauh sebelas kilometer dari Utaranya.

Data tentang tata-ruang kota tertua yang dapat penulis temukan adalah berupa sebuah peta yang dibuat pada tahun 1825, yang memperlihatkan konsep tata-ruang dengan jalan Raya Pos sebagai garis pemisah kawasan selatan untuk masyarakat sunda, dengan kawasan utara yang lebih diutamakan untuk masyarakat Eropa.

Di dalam peta juga terlihat dengan jelas terlihat konsep ruang kehidupan sosial, budaya dan politik masyarakat Sunda yang ditata secara Hierarkis dengan Kabupaten diletakan di tengah, dikelilingi oleh Mesjid dan Rumah Tumenggung di sebelah Barat, perumahan Rakyat di selatan, dan Rumah Patih di sebelah Timur. Sedangkan di kawasan Utara jalan Raya Pos terdapat Penjara, asisten Perkebunan Kopi dengan gudang kopinya (Koffie Pakhuis), dan penginapan dengan Rumah Makan (Moii Bandoeng 1939 : 7).

Data lapangan memperlihatkan bahwa peninggalan sejarah tertua di Kota Bandung tersebut hanya tinggal Kabupaten dengan Alun-alunnya saja. Bila kabupaten yang seharusnya semakin berperan sebagai Pusat Pengembangan Budaya Sunda yang terbuka bagi kepentingan budaya dan pariwisata, maka begitu pun nasib Alun-alun yang sejak dulu berfungsi untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat pun, juga sedang menuju masa depan yang tidak jelas dan tidak teratur.

 

PEMBANGUNAN SETELAH BANDUNG MEMPEROLEH OTONOMI TAHUN 1906

Dari data perkembangan kota bandung dalam dasawarsa pertama abad -20 memperlihatkan pembangunan yang belum berjalan cepat, akan tetapi dalam dasawarsa kedua, kota Bandung mulai memperlihatkan peranan Arsitek dan Ahli Tata Kota dalam membantu menata dan mempercepat pembangunannya. Mereka diantaranya adalah arsitek Edward Cuypers, Mclaine Pont, dan Wolff Schoemaker yang semuanya berkarya demi kelengkapan sarana bangunan umum seperti Bank, Hotel, Gereja, Rumah Sakit, Perguruan Tinggi dan lain sebagainya. Bila Aalbers banyak berkarya berupa perumahan di daerah perumahan masyarakat eropa (Europeesche Woonwijken) di bagian utara kota. Sedangkan Ghijsels danKarstenmembantu merencanakan “perluasan kota” dengan konsep keseimbangan pembangunan antara kawasan timur dan barat, serta perluasan kota ke arah utara. Mereka banyak berperan mengembangkan perumahan mewah di kawasan orang Eropa di utara kota yang dikenal dengan istilah “de Europe woonwijken”.

Di sisi lain, pemerintah kota juga berperan membangun perumahan untuk masyarakat bawah yang dikenal dengan istilah Perumahan Kecil (Kleinwooningbouw) dan perumahan kampung (kampung wooning) seperti di daerah cihapit serta di daerah selatan kota lainnya. Semuanya bertujuan untuk menciptakan citra Kota Bandung yang lebih baik. Lebih jauh lagi mereka telah berusaha membangun Bandung sebagai “Kota Budaya dan Calon Ibu-kota Hindia Belanda” yang seindah dan senyaman Kota Paris.

Dengan karya-karya merekalah kota Bandung memperoleh banyak sanjungan yang bagus-bagus seperti kota Eropa di daerah Tropis (Bandoeng Eropa in the tropen) , kota Hunian yang ideal (Bandoeng Ideale Woonstad), kota Taman (Bandung Als Tuinstad), kota Turis (Bandoeng Als Touriststad), dan lain sebagainya. Karya-karya mereka telah turut berperan meningkatkan citra kota Bandung di mata masyarakat Eropa, sehingga jumlah masyarakat Eropa yang hidup di bandung semakin meningkat dari jumlah 2.000 orang pada tahun 1900, yang kemudian berkembang menjadi 30.000 orang pada tahun 1941 (voskuil, Bandoeng Beeld van Een Stad: 1996:30)

Sayang kota Bandung sekarang sering mendapat julukan yang kurang sedap, karena lebih banyak mementingkan masyarakat ekonomi kuat dengan pembangunan Hotel, Super Mall, Supermarket, dan Apartment Mewah, akan tetapi mengabaikan masyarakat ekonomi lemah yang membutuhkan pasar rakyat kecil, serta perumahan rakyat-kecil. Padahal kepentingan si-kaya dan si-miskin harus seimbang, agar supaya masalah “kaki-lima” tidak berlarut-larut digusur atau diusir kesana kemari.

 

Read more...
 
More Articles...
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 39
Templates by Joomla2u.