Delicious

Bandung Heritage

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
Joomla! Slideshow

ShareThis

KEMACETAN LALULINTAS BANDUNG- LEMBANG PDF Print E-mail
Written by Prof.Dr. Otto Soemarwoto   
Tuesday, 09 February 2010 19:09
Rencana Pemprov untuk menambah jalan akses ke Lembang dengan meningkatkan sebuah jalan alternatif telah memicu kontroversi panas. Tujuh jalan alternatif telah diidentifikasi dan dikaji, mulai dari Cimahi-Lembang di barat sampai pada Ujungberung-Lembang di timur. Pilihannya ialah alternatif Jalan Dago-Lembang melalui pinggiran Taman Hutan Raya Juanda. Walaupun telah dilakukan kajian yang saksama, kekhawatiran akan terjadinya dampak lingkungan hidup yang tidak diinginkan tidak dapat diredam, yaitu meningkatnya risiko banjir di Bandung dan daerah hilirnya. Kekhawatiran ini beralasan, karena sekarang saja Bandung telah menderita genangan banjir setiap ada hujan. Sementara dalam musim kemarau kita kekurangan air. Apalagi jika Bandung Utara makin penuh dengan pemukiman.
Pengalaman menunjukkan, jalan selalu menarik pemukiman dan bisnis baru. Apalagi di daerah Bandung Utara yang sejuk dan pemandangan yang indah. Sekarang pun pemukiman itu telah mulai tumbuh. Jalan pun telah dibangun menuju ke lokasi jalur jalan alternatif itu, meskipun tak ada izinnya. Harus dihargai usaha Pemprov untuk mengantisipasi pemukiman “liar” itu dengan akan dibuatnya hutan selebar 100 m di kanan-kiri jalan, meninggikan badan jalan dan diadakannya MOU antara Pemprov, Pemkab dan Pemkot Bandung.  Tetapi keraguan tak dapat dipendam juga. Dapatkah Pemda menegakkan peraturan larangan pemukiman liar itu? Jalan baru yang sedang dibangun tanpa izin pun didiamkan saja. Pengalaman juga menunjukkan banyak SKB (Surat Keputusan Bersama) Menteri yang entah ke mana rimbanya setelah ditandatangani. Data menunjukkan betapa banyak pelanggaran telah dilakukan terhadap Sk Gubernur tahun 1982 yang mengatur penggunaan lahan di Bandung Utara. SK itu belum dicabut. Pelanggaran yang banyak itu dilakukan secara resmi dengan izin pemerintah.

Berdasarkan pengalaman dan perkiraan ini jalur alternatif manapun akan mempunyai dampak makin rusaknya fungsi hidro-orologi Bandung Utara. Lalu apa solusinya? Kemacetan lalulintas di Jalan Setyabudi tak dapat dibiarkan berlarut-larut. Alternatif solusi itu dapat dibagi dua. Pertama, menambah jalan. Alternatif inilah yang dipilih dan dikaji oleh Pemda. Alternatif kedua, meningkatkan efisiensi penggunaan jalan dengan memperbaiki pengelolaan transpor (traffic management). Alternatif kedua ini telah diabaikan dan sama sekali tidak dipertimbangkan.

Dari pengalaman kita ketahui menambah jalan tidak dapat memecahkan masalah lalulintas. Penambahan jalan memacu laju pertumbuhan kendaraan bermotor. Karena itu dalam waktu yang singkat kemacetan lalulintas terjadi lagi. Lihat saja Jalan Suci yang dulu dirancang sebagai jalan hubungan cepat Supratman-Cicaheum. Di Jakarta telah dibangun banyak jalan raya dan jalan tol baru. Tetapi kemacetan makin menjadi-jadi. Bersamaan dengan itu biaya pemeliharaan jalan naik, pencemaran udara meningkat dan biaya operasi kendaraan juga naik. Dengan naiknya pencemaran udara biaya kesehatan juga naik, sementara produktivitas sumberdaya manusia turun. Di Jakarta biaya dampak kesehatan pencemaran udara diperkirakan oleh Bank Dunia sebesar US$ 220 juta/tahun.   

Mengingat hal tersebut di atas sudah selayaknyalah alternatif kedua dipertimbangkan. Banyak cara telah digunakan, mulai dari yang amat mahal sampai pada yang murah. Prinsipnya ialah peningkatan efisiensi penggunaan kendaraan bermotor. Salah satunya ialah perbaikan sistem transpor umum dengan bis yang bersih, aman, nyaman dan tepat waktu. Pejalan (traveler) akan dapat ditarik untuk menggunakan bis, jika terminal bis dibangun di tempat yang tepat dan mempunyai koneksi yang baik dengan transpor umum lain. Jadi perlu ada koordinasi dengan pengelolaan transpor dalam kota Bandung. Persoalan kita dengan transpor umum ialah dalam pengelolaannya. Bis tidak terurus dengan baik, lekas rusak, tidak nyaman, tidak aman dan tidak tepat waktu sehingga orang tidak suka naik bis umum. Tetapi masak kita tidak dapat memperbaikinya?

Alternatif ini mempunyai dampak mengurangi jumlah kendaraan di jalan. Dengan ini kemacetan lalulintas berkurang. Efisiensi penggunaan bensin meningkat sehingga biaya operasi kendaraan turun. Anggaran belanja pemerintah untuk subsidi BBM pun akan turun sehingga desakan untuk menaikkan harga BBM dapat dikurangi. Pencemaran udara juga akan turun sehingga efek pada kesehatan kita dapat diturunkan. Masyarakat kita pada umumnya tidak sadar pada dampak gas buangan mobil yang sebenarnya sangat berbahaya.

Perbaikan pengelolaan transpor di Jalan Setiabudi-Lembang yang dipadukan dengan perbaikan pengelolaan transpor kota Bandung akan dapat mengurangi tingkat pencemaran udara. Daerah Jalan Dago-Lembang dapat dikembangkan untuk ekowisata. Ekowisata yang dimaksud di sini ialah yang sesuai dengan Quebec Declaration on Ecotourism yang mengharuskan pencagaran (conservation) warisan alam dan budaya (natural and cultural heritage) serta yang melibatkan penduduk lokal sebagai pemeran utama dan mendapatkan keuntungan utama pula. Banyak literatur menunjukkan bahwa ekowisata telah berkembang dengan pesat. Bank Pembangunan Asia (ADB) melaporkan, di lembah Mekong ekowisata terus berkembang dengan laju yang tinggi, meskipun ada krisis ekonomi. Transpor utama ekowisata ialah berjalan kaki, bersepeda dan berkuda dan menginap dengan camping dan di rumah penduduk. Penduduk dapat mendapatkan pendapatan sebagai pemandu wisata, menyewakan kamar untuk penginapan, tenda, sepeda dan kuda, melayani catering wisatawan, serta menjual sayur-mayur dan  bunga-bungaan kepada para wisatawan. Mereka akan menjaga kerusakan lingkungan hidup, karena lingkungan hidup itu adalah sumber kehidupannya.

Dengan naiknya pendapatan dari ekowisata itu risiko naiknya kerusakan Bandung Utara dapat ditekan sampai sekecil-kecilnya. Masalah banjir dan kekurangan air di Bandung dapat diatasi. Dampak pencemaran udara pun dapat ditekan sampai sekecil-kecilnya.

Eko-wisata dengan menekankan pada trasnport bus, bersepeda dan berjalan kaki di Bandung juga akan dapat memacu pertumbuhan ekonomi, sementara pencemaran udara, banjir dan kekeringan serta pengrusakan warisan budaya dapat dikendalikan. Di Eropa bisnis di daerah belanja bebas kendaraan bermotor rata-rata naik 60-70%.
 
*** Otto Soemarwoto Agustus 2004 ***
 
Templates by Joomla2u.